KULIAH TAK GENTAR
Hidup adalah rahasia, tiada yang tau apa kehendak tuhan untuk hidup kita di hari-hari selanjutnya. Aku tidak menyangka, betapa aku sekarang berada dalam posisi yang sejak kecil aku bayangkan, aku impikan dan aku cita-citakan. Aku tak menyangka , kini gedung-gedung megah nan tinggi itu menjadi pandangan keseharianku. Dan aku masih belum percaya bahwa kini aku sudah menjadi mahasiswa di universitas yang tersohor di provinsi ini. Dahulu aku hanyalah bocah miskin yang bermimpi setinggi langit untuk bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri. Mencoba memantapkan diri sejak dini untuk bisa menjadi satu-satunya orang di keluarga besarku yang bisa melanjutkan sekolah ke universitas. Sejak kelas satu SMA, Aku sudah merencanakan visiku kedepan, ku targetkan untuk lulus ptn melalui dari jalur undangan. Namun, Allah berkata lain. Nilai rapotku yang melonjak tinggi tak mampu membawaku masuk ke ptn. Tak putus asa, aku ikut ujian tulis untuk bisa masuk ptn, namun Allah masih berkata "belum".
Tahun pertamaku setelah lulus SMA ku isi dengan bekerja, membantu mencari nafkah untuk keluargaku. Setelah setengah tahun aku bekerja sebagai penjaga toko baju, aku pun pindah bekerja di sebuah rumah makan agar aku bisa memiliki lebih banyak waktu untuk belajar. 4 bulan menjelang ujian SBMPTN 2015, ku kencangkan sabukku, ku asah pedangku dan ku kuatkan tekad ku bahwa tahun ini aku harus kuliah. Saat itu aku tinggal di sebuah mess di tempat aku bekerja. Setiap waktu istirahat tiba, ku buka kembali buku-bukuku dan ku latih lagi kemampuanku. Orang-orang yang melihat ku heran. Beragam pertanyaan dan cemoohan pun terlontar untukku. "Mau jadi profesor kau Fran ? Hahahaha.." dengan senyuman ku aamiinkan saja perkataan mereka yang mengolok-olokku.
Semakin dekat menjelang SBMPTN, semakin giat pula aku belajar. Saat aku bekerja di shift malam, ku paksakan mataku untuk tidak mengantuk dan ku bahas lagi soal-soal sbmptn sampai subuh menjelang. Tak hanya itu, segala jenis try out yang di adakan di USU pun tak luput dari incaranku. Hingga hari yang ku nantikan tiba, pertarungan sesungguhnya demi massa depan.
Jantungku berdebar, keringatku bercucuran, aku nervous. Tak ingin mengulangi kesalahan lagi seperti tahun sebelumnya. Dengan bismillah, ku lalap habis segala soal yang terbentang di depanku dengan percaya diri. Hingga satu bulan kemudian pengumuman pun keluar. Waktu itu bulan Ramadhan. Sejak jam 9 pagi aku sudah gelisah menunggu hasil ujianku yang akan keluar pada jam 5 sore nanti. Namun, sampai waktu berbuka tiba, tak kunjung ku buka pengumuman tersebut. Hingga jam 8 malam, ku yakinkan diriku untuk membukanya. Duhai tak ku sangka. Kali ini aku mendapat ucapan selamat dari panitia SBMPTN. aku lulus di pilihan pertamaku yakni Universitas Riau. Sontak, aku kegeringan. Ku peluk teman dekatku yang menemaniku malam itu lalu aku buru-buru pulang ke rumahku untuk memberitahu ayah dan ibuku. Air mata ibuku tak terbendung lagi. Senang, bangga juga sedih bercampur aduk. Hingga malam itu berakhir, barulah kami memikirkan langkah apa selanjutnya. Pendaftaran ulang ke universitas hanya tinggal dua minggu lagi. Namun sampai saat ini, tak sepersen pun uang yang kami miliki untuk biaya keberangkatanku. Mencoba mencari solusi dengan mendatangi semua saudaraku, namun tak seorang pun yang mau meminjamkan uangnya untuk kami. Walaupun saat itu aku lulus dengan bidikmisi, namun bidikmisi tidaklah langsung mencairkan dananya saat itu.Segala usaha dan upaya yang kami lakukan untuk medapatkan dana sia-sia. Hari semakin dekat namun kami masih belum memiliki uang. Dengan tetesan air mata, ibuku meminta maaf padaku. Dan dengan berat hati aku harus menerima kenyataan ini, bahwa aku tidak jadi kuliah.
Dua bulan berlalu, aku masih belum bisa mengubur harapanku untuk berkuliah di Universitas Riau. Aku murung, diam, dan suka melamun. Hingga sahabat-sahabatku kembali membangkitkan semangatku untuk bisa kembali berjuang lagi. Alhamdulillah masih banyak orang yang menyayangiku dan membantuku untuk kembali menjadi diriku lagi.
Saat itu malam tahun baru 2016, aku bermuhasabah. Ku ikrarkan pada diriku sendiri bahwa di tahun ini, tahun terakhir ku untuk bisa masuk ke ptn, aku harus lulus. Aku tidak mau hidup miskin terus, aku tidak mau terus bekerja di rumah makan hingga aku menikah dan aku tak mau menjadi pekerja lagi. Aku harus kuliah, demi mendapat pendidikan yang tinggi dan demi mengeluarkan keluargaku dari belenggu kemiskinan. Semangat itu terus membara di dalam diriku dan semangat itu pula yang membua jiwaku serasa hidup kembali.
Setiap hari setelah selesai bekerja, aku belajar di mess hingga larut malam. Ku bawa buku-buku ke tempat aku bekerja. Ku latih lagi diriku disenggang waktu bekerja. Bahkan ketika aku bekerja di shift malam, tak henti-hentinya aku belajar sampai pagi menjelang. Buku, buku, buku dan buku. Dimana pun aku berada tak luput ada buku disampingku. Sebelum tidur dan juga bangun tidur masih buku saja yg menjadi peganganku.
Namun aku tau, usaha saja tidak cukup. Ku tadahkan tanganku disetiap tahujudku, ku tekadkan diri ku membaca Al-qur'an satu hari satu juz dan tak lupa pula kuminta restu dari orang tua dan sahabat-sahabatku. Hingga waktu ujian tiba dan sebulan kemudian pengumuman keluar. Kali ini jantungku berdebar jauh lebih kencang dari tahun-tahun sebelumnya. Karena ini merupakan kesempatan terakhirku untuk masuk PTN.
Alhamdulillah, Universitas Sumatera Utara menerimaku di jurusan yang sejak kecil aku gemari, yakni biologi. Kali ini sudah kupersiapkan dengan matang biaya untuk aku mendaftar ulang. Ku coba untuk meminta restu pada keluarga besarku. Namun mereka malah mengolok-ngolokku. "Sudah tau orang tua susah, ini malah bikin susah. Untuk apa kuliah, banyak biaya!! Ingatlah masih banyak adik-adikmu yang harus disekolahkan. Sudah bagus-bagus kerja, kini mau kuliah, mau dapat biaya dari mana?" . Hatiku terlukai mendengar kalimat dari salah seorang keluargaku itu. Ku pandangi wajah ibuku, ia hanya merunduk tak berani membantah kalimat itu. Namun, ku coba untuk tegar. Dan ku katakan pada mereka bahwa aku bisa kuliah dengan segala jerih payahku sendiri.
Dengan memohon keridhoan Allah. Hingga saat ini aku masih bisa bertahan untuk kuliah di semester dua. Bekerja paruh waktu, berjualan di kampus dan mencari beasiswa. Semua akan ku lakukan demi menggapai cita-citaku.
Tak perlu mendengarkan perkataan orang lain yang hanya bisa menjatuhkan mu. Teruslah berlari mengejar mimpi-mimpi mu. Kerahkan semua tenaga mu dan bersujudlah kepada sang penciptamu. Karna mimpi hanyalah sebuah mimpi jika kau tak berusaha mewujudkannya.

MashaaAllah. Inspiratif fran. Semangat terus ya frn. Sukses. InshaaAllah.
BalasHapusMasya Allah...
BalasHapusSemangat Fran!
Dan, terima kasih sudah menulis :')
Iya mis Aamiin.. Makasih yaa mis. Imis jg salah satu orang dalam kisah ini ππ
BalasHapusIya kak andam. Insha Allah bisa semangat terus. Ini baru belajar menulis hehehehe π
BalasHapusWah!
BalasHapusTerima kasih bang fran
Benar" inspiratif ini
Sukses studi dan harapannya kedepan ya bang
Aku betulan fans abangπ